Kenapa Orang Indonesia Masih Jualan Dengan Whatsapp?

18

Rencana Kemenkominfo untuk memblokir Whatsapp jelas sebuah blunder. Tidak hanya sarana komunikasi sehari-hari yang sudah mendarah daging bisa terhenti, bisnis kecil yang mengandalkan jualan dengan Whatsapp juga akan ikut runtuh. Bayangkan saja, sangat banyak sekali usaha kecil yang mengandalkan Whatsapp sebagai sarana menyambung hidup. 

Sahabat Kalem yang mempunya usaha dengan basis digital mungkin juga menyadari hal ini. Ada perilaku unik dari pembeli online di Indonesia, meskipun sudah membangun toko online dengan sistem checkout yang mumpuni, mereka akan tetap saja mencari tombol Whatsapp untuk ngobrol terlebih dahulu. 

Kebiasaan untuk mengonfirmasi berkali-kali ini memang budaya kita. Di toko online sudah jelas tertulis bahwa baju yang dijual hanya warna hitam, tetap saja kirim Whatsapp kepada penjual, “ready warna apa aja kak?” Semacam itulah peliknya jualan dengan Whatsapp di Indonesia. 

Tapi ya memang yang namanya bisnis haruslah memudahkan pembeli. Prinsip berbisnis menurut bosnya Diva Press, pak Edi Ah Iyubenu adalah tolong menolong, jadi mudahkanlah selalu urusan orang lain. Meski pasar kita adalah orang-orang yang belum sepenuhnya melek literasi digital, kita perlu tetap fasilitasi, maka jualan dengan Whatsapp nampaknya akan masih jadi andalan bagi pelaku bisnis online di Indonesia. 

Untuk para sahabat Kalem, jualan dengan Whatsapp seperti kita tahu biasanya menggunakan Whatsapp Business karena kita bisa memasang katalog, data usaha kita dan seprofesional mungkin melayani para pelanggan. Namun, tetap saja Whatsapp Business pada akhirnya hanya berfungsi sebagai saluran akhir untuk closing setelah sebelumnya pembeli masuk ke landing page toko kita dan melihat-lihat produk. 

Meskipun sekarang ada beberapa tools yang memudahkan kita untuk bisa membangun toko online langsung dari Whatsapp. Contohnya seperti aplikasi WBSLink yang memang diperuntukkan bagi para penjual online agar tidak ribet dengan landing page, membuat form order, sampai dengan invoice. Semuanya bisa dibuat dengan satu aplikasi di handphone dan terintegrasi langsung dengan Whatsapp.

Sisanya adalah tinggal mengumpulkan energi untuk closing, alias meyakinkan pembeli yang baru tertarik dengan produk kita menjadi beneran beli. Tentu saja di sini ada teknik tertentu, bukan cuma asal meyakinkan sampai akhirnya karena lelah kita bilang, “Jadi beli ga kak sebenernya?”

Sahabat Kalem bisa mencari berbagai artikel tentang tahapan atau cara-cara closing saat jualan dengan Whatsapp. Tetapi di atas semua itu, closing adalah persoalan energi. Keyakinan penjual harus lebih tinggi dari keyakinan pembeli, tapi tentu saja bukan soal keyakinan kosong. 

Kita yakin betul bahwa produk kita memang bisa menyelesaikan masalah pembeli, kita yakin betul bahwa produk kita bisa lebih cepat memberi solusi, memberi diskon yang rasional, dan yang terpenting, memudahkan pembeli dalam proses pembayaran. 

Semua itu kemudian kita berikan dengan kekihlasan dan kesadaran penuh, maka kemungkinan besar energi kita akang unggul dan sampai kepada pembeli. Ini yang paling penting. Orang tidak akan ujug-ujug check out saat jualan dengan Whatsapp, kesabaran saat closing juga sangat perlu diperhatikan.

Aplikasi Whatsapp integrasi WBSLink

Nilai kualitas konten