Tidak Berani Menolak Perintah Nabi Daud

abu-nawas-bermimpi-kalem.id
Source: kalem.id
Berbagi yuk ...

Seorang ahli Yoga mengajak seorang Pendeta bersekongkol untuk memperdaya Abu Nawas. Setelah mereka mencapai kesepakatan, mereka berdua berangkat menemui Abu Nawas di rumahnya.

Kami sebenarnya ingin mengajak engkau melakukan pengembaraan suci. Kalau engkau tidak keberatan bergabunglah bersama kami.” Kata ahli Yoga.

Dengan senang hati. Lalu kapan rencananya?” Tanya Abu Nawas polos.

Besok pagi.” Jawab Pendeta dengan tegas.

Baiklah, kalau begitu kita bertemu di tengah pasar.” Kata Abu Nawas menyanggupi.

Hari berikutnya mereka berangkat bersama, Abu Nawas mengenakan jubah seorang Sufi, sedangkan ahli Yoga dan Pendeta memakai seragam keagamaan masing-masing. Di tengah perjalanan, mereka mulai diserang rasa lapar karena mereka sengaja tidak membawa bekal.

Hai Abu Nawas, bagaimana kalau engkau saja yang meminta sedekah untuk membeli makanan? Kami berdua hendak mengadakan kebaktian dan berdoa kepada Tuhan.” Kata Pendeta diiringi anggukan ahli Yoga.

Tanpa banyak bicara, Abu Nawas berangkat mencari dan mengumpulkan sedekah dari dusun satu ke dusun lain. Setelah sedekah terkumpul, Abu Nawas membeli makanan yang cukup untuk tiga orang.

Abu Nawas kembali ke tempat Pendeta dan ahli Yoga dengan membawa makanan. Karena sudah tak sanggup menahan rasa lapar Abu Nawas berkata, “Mari segera kita bagi makanan ini sekarang juga.

Jangan sekarang! Kami sedang berpuasa.” Bantah ahli Yoga.

Tetapi aku hanya menginginkan bagianku saja, sedangkan bagian kalian terserah pada kalian.” Kata Abu Nawas menawarkan jalan keluar.

Aku tidak setuju, kita harus seiring seirama dalam melakukan apa pun.” Kata Pendeta.

“Betul, aku pun tidak setuju karena waktu berbuka puasa bagiku adalah besok pagi.” Ahli Yoga menimpali.

Abu Nawas benar-benar merasa jengkel dan marah. Namun Abu Nawas tidak memperlihatkan sedikit pun kejengkelan dan kemarahannya.

Bagaimana kalau kita mengadakan perjanjian?” Kata Pendeta kepada Abu Nawas.

Perjanjian apa?” Tanya Abu Nawas.

Kita akan berlomba, barangsiapa di antara kita bermimpi paling indah malam ini, maka ia akan mendapat bagian terbanyak. Yang kedua, dapat lebih sedikit dan yang mimpinya terburuk akan mendapat bagian paling sedikit.” Pendeta itu menjelaskan.

Abu Nawas setuju, tanpa memberi komentar, malam semakin larut, embun mulai turun. Pendeta dan ahli Yoga mulai mengantuk lalu tertidur. Abu Nawas tidak bisa tidur, ia hanya berpura-pura tidur. Setelah merasa yakin kawan-kawannya sudah terlelap, Abu Nawas menghampiri makanan itu. Tanpa berpikir dua kali Abu Nawas menghabiskan makanan itu hingga tidak tersisa sedikit pun. Setelah merasa kenyang, Abu Nawas baru bisa tidur.

Keesokan harinya mereka bangun hampir bersamaan. Ahli Yoga dengan wajah berseri-seri bercerita, “Tadi malam aku bermimpi memasuki sebuah taman yang mirip sekali dengan Nirvana. Aku merasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya dalam hidup ini.

Pendeta takjub dengan mimpi ahli Yoga, giliran Pendeta menceritakan mimpinya, “Aku seolah-olah menembus ruang dan waktu. Ternyata memang benar, aku secara tidak sengaja berhasil menyusup ke masa silam dimana pendiri agamaku hidup. Aku bertemu dengan beliau dan yang lebih membahagiakan adalah aku diberkatinya.

Ahli Yoga juga memuji-muji kehebatan mimpi Pendeta, sedangkan Abu Nawas hanya diam, ia bahkan tidak merasa tertarik sedikit pun. Karena Abu Nawas belum juga buka mulut, Pendeta dan ahli Yoga mulai tidak sabar untuk menanyakan mimpi Abu Nawas.

Sekarang giliran kau Abu Nawas!” Kata ahli Yoga kepada Abu Nawas.

Kalian tentu tahu Nabi Daud? Beliau adalah seorang nabi yang ahli berpuasa. Aku bermimpi bertemu dengan beliau dan berbincang-bincang. Beliau menanyakan apakah aku berpuasa atau tidak, aku katakan aku berpuasa, karena, aku memang tidak makan sejak dini hari. Kemudian beliau menyuruhku segera berbuka karena hari sudah malam. Tentu saja aku tidak berani mengabaikan perintah seorang nabi, aku segera terbangun dari tidur dan langsung menghabiskan makanan itu.” Kata Abu Nawas dengan dingin.

Nilai kualitas konten