Home Sastra 24 Jam Bersama Gaspar, Novel yang Bisa Dibaca Selama 24 Jam

24 Jam Bersama Gaspar, Novel yang Bisa Dibaca Selama 24 Jam

Novel
Source: youtube.com
Berbagi yuk ...
  • 4
    Shares
5/5 (1)

KALEM.ID –  “Gaspar ini adalah prototipe manusia yang melakukan kejahatan tak tanggung-tanggung”

Pada awal diterbitkannya tahun 2017 novel 24 Jam Bersama Gaspar dari judulnya saja kurang begitu click bait jika itu adalah konten YouTube. Sebagai penggemar novel yang angin-anginan dan awam akan karakteristik novel, ibarat bertemu seorang wanita yang biasa saja, melihat novel ini juga sama biasanya, tidak ada sempat terbesit rasa ketertarikan terhadap novel karya Sabda Armandio ini.

Namun entah mengapa tiba-tiba di sebuah postingan Instagramyang saya buka baru-baru ini, novel 24 Jam Bersama Gaspar begitu ramai diperbincangkan di kalangan akun-akun jual beli buku online. Saya tidak akan menjelaskan bahwa saya sudah menjilat ludah sendiri karena akhirnya novel yangtidak click bait ini saya beli juga. Bukan apa-apa, alasannya sederhana dalam judul kecil dari novel ini tertulis kata ‘detektif’.

Sebagai seorang penggemar cerita Detektif Conan dan SherlockHolmes, tentu saya merasa terpanggil dengan bahasa itu, meski saya sendiri waktu itu tidak bisa menjamin bahwa novel 24 Jam Bersama Gaspar adalah novel detektif. Terbukti, sampai selesai membacanya saya memang tidak sepenuhnya menemukan kisah detektif cemerlang macam Sherlock Holmes yang bisa membaca fenomena dari sebuah puntung rokok.

Tapi, benar-benar diakui meskipun begitu, ekspektasi saya yang semula ingin menikmati cerita penyelidikan heroik, terbayar dengan lunas oleh alur cerita dan penokohan yang atraktif. Seperti namanya, Gaspar yangsebelumnya saya terka sebagai seorang detektif, ternyata salah betul. Gaspar ini adalah imajinasi iseng yang dibuat dengan serius, dan cerita dari gagasan unik Sabda Armandio itulah yang membuat banyak orang ingin bertemu dengan tokoh Gaspar.

Karakter yang dibangun Dio (begitu kiranya sapaan akrab Sabda Armandio) kepada Gaspar sangat prinsipil dan jago berkelakar. Saya tidak mencoba menyamakan karakter Gaspar ini dengan Sujiwo Tedjo, namun begitulah kiranya jika Gaspar ini ada di dunia. Karakter Gaspar yang nyeleneh sekaligus sangat idealis tergambar ketika ada seseorang yang menyebut Cortazar (motornyaGaspar) sebagai motor alat transportasi, dan Gaspar tidak terima Cortazar disebut motor, padahal Cortazar itu ya memang motor.

Percakapan-percakapan yang dikemas menjadi lucu namun berisi juga salah satu hal yang baru saya temui. Tak jarang Gaspar ini membuat hal tabu dalam perbincangan sehari-hari kita menjadi perbincangan yang biasa saja dalam dunianya. Salah satunya adalah misi perampokan toko emas. Tentu karena rampok erat kaitannya dengan kriminal, dan kriminal sangat besar kemungkinan adalah tindakan jahat.

Tetapi bukankah kejahatan adalah elemen terpenting bagi kehidupan manusia, sehingga kemudian manusia bisa memenangkan yang baik atas yang jahat. Bagi Gaspar ini menurut penafsiran saya, kebanyakan orang yang mencintai kebaikan dan selalu rindu dengan narasi baik mengalahkan jahat,realitanya selalu saja setengah-setengah dalam melakukan keduanya baik itu kebaikan atau pun kejahatan. Maka terkadang ada istilah, jadi orang jangan terlalu baik, sambil teriak-teriak mengecam kejahatan.

Nah, Gaspar ini adalah protoipe manusia yang melakukan kejahatan tak tanggung-tanggung. Dalam bahasa anak hijrah adalah kejahatan yang kaffah. Sehingga niat jahatnya membongkar sisi lain dari dirinya untuk melawan kejahatan yang setengah-setengah itu. Kalau mau berimajinasi, inti dari novel ini adalah peperangan antara hitam pekat dengan abu-abu. Ya, kejahatan murni tanpa tedengaling-aling melawan kejahatan yang dibungkus dengan kaleng kebaikan.

Terlepas dari soal kejahatan dan kebaikan, mungkin satu-satunya yang membuat menarik banyak pembaca muda terhadap novel ini adalah gagasan merampok toko emas yang ternyata tokoh Gaspar bukan ingin mengambil emasnya untuk memperkaya diri, melainkan ingin mencuri kotak hitam milik Wan Ali juragan toko emas untuk memenuhi hasrat mistifikasi dalam diri Gaspar.

Dan tidak seperti kebanyakan novel dimana dari satu bab menuju bab lain itu seakan-akan memerlukan rentang waktu yang sangat panjang. Dalam novel ini, Dio berhasil membuat nyata novelnya dengan sebenar-benarnya kenyataan yaitu cerita yang saling berdekatan jaraknya baik itu ruang, waktu atau emosi. Keseharian kita, banyak tergambar dalam novel ini meski sedikit agak imajinatif.

Yang unik selain Gaspar sebagai tokoh utama, novel ini memang benar-benar memuat alur cerita detektif. Tidak menipu memang, tapi anda jangan berharap menemukan detektif handal yang berhasil mengungkap sebuah kasus beserta dramanya. Sebaliknya, anda akan membaca cerita konyol seorang detektif bersama nenek tua pikun. Coba anda bayangkan, bagaimana bisa seorang nenek tua yang sudah pikun harus menjelaskan rangkaian kejadian yang meski tidak rumit-rumit amat menjadi sebuah percakapan menyebalkan bagi detektifnya dan anda sebagai pembaca.

Novel ini lucu, saya berani jamin. Akan menghibur anda sebagaimana para pelawak membuat anda terbahak-bahak tanpa anda harus mempersiapkan diri sebelumnya dengan membuang jauh semua masalah anda. Karena justru dengan membacanya, masalah andalah yang akan dibuang jauh oleh Gaspar dan teman-temannya. Tapi sekali lagi, selain lucu, novel ini juga kaya akan pengetahuan umum yang jarang orang ketahui, unsur rohani dan romantika kesedihan jika ditelaah lebih jauh juga turut hadir melengkapi kisah seorang Gaspar yang mulia.

Nilai kualitas konten