Home Sastra Beragama Tak Harus Susah, yang Harus Susah Itu Belajarnya

Beragama Tak Harus Susah, yang Harus Susah Itu Belajarnya

Source : majalahikra.blogspot.com
Berbagi yuk ...

Tak perlu pusing-pusing memang dalam menjalankan aktifitas beragama, Allah selalu punya rukhshoh bahkan untuk shalat yang lima waktu dan kewajiban-kewajiban lainnya, kenapa kita masih saja menganggap bahwa beragama itu melelahkan. Toh dari lima rukun Islam saja, hanya tiga diantaranya yang dihukumi sebagai fardhu, syahadat, shalat dan puasa. Karena, Zakat dan Pergi Haji meskipun rukun tetapi selalu ada penekanan bagi kemampuan, baik itu kemampuan finansial maupun kemampuan lahiriah.

 

Beragama itu mudah, memang apa yang dianggap sulit dari melaksanakan shalat misalnya? Jika kita masih menganggap shalat sebatas gerakan-gerakan lahiriah? seharusnya anggap saja olah raga. Lalu, apa yang susah dari puasa jika toh kita hanya menganggap bahwa puasa itu menahan lapar sampai maghrib? kan bisa kita jadikan agenda diet.

Bahkan kita ini selalu berebut ingin dianggap sebagai umat Islam yang paling kaffah, sampai-sampai dicap kafir sama teman kita yang baru hijrah saja merindingnya minta ampun. Nah, beragama memang selalu lebih mudah bahkan lebih nikmat daripada harus mempelajari agama itu sendiri.

Guru ngaji saya dulu pernah berpesan, kalau kamu mau shalat, ya ikuti saja cara shalat guru ngajimu, tapi kalau kamu mau tau bagaimana caranya shalat yang baik, maka tidak cukup hanya meniru gerakan dan bacaan guru ngajimu saja, tapi kamu harus belajar tentang ilmu shalat, dari mulai dimensi fiqihnya, sampai dimensi tasawufnya.

Saya sendiri sebetulnya masih bingung, sebetulnya, agama itu apa? Apakah agama hanya sebatas shalat, puasa, atau ibadah-ibadah mahdhah lainnya? Seiring banyaknya khilafiyah yang menjadi fokus perhatian beragama saya, maka hal itu pula yang malah membatasi pemikiran saya tentang agama, bahwa agama itu sesederhana melakukan ibadah “malam jumat” contohnya.

Kita jarang sekali dijejali bahkan dalam pelajaran agama di sekolah sekalipun, tentang nilai dari agama. Kita pasti hanya ditunjukan bagaimana caranya shalat tanpa dikasih tau apa maknanya. Sebagaimana matematika, pelajaran agama sama mutlaknya dengan cara menghitung tiga dikali tiga sama dengan sembilan. Situasi-situasi seperti inilah yang nantinya menjadikan diri kita manusia dengan banyak prasangka. Loh gimana enggak, kalo sedikit-sedikit beda kita anggap sesat, kita anggap ahli naar.

Cara berpikir ini juga yang akhirnya membuat kita serba hitam putih, dimana tidak A maka itu B. Padahal, jika berbicara agama, kita tak boleh melepaskan nilai perenungannya, seperti kisah seorang pelacur yang disebut Nabi sebagai ahli surga karena telah memberi minum seekor anjing. Kalau kita hanya melihat pelacur itu dengan kacamata fiqih, maka sudah tempat pelacur itu ya di Neraka. Tapi nyatanya, tak ada yang bisa memastikan bahwa agama selalu memiliki kesimpulan yang matematis.

Itulah pentingnya belajar agama. Tapi masalahnya semakin kesini, orang-orang membuat belajar agama menjadi mudah dan instan, akhirnya agama adalah paltform dan akun-akun. Padahal setau saya, sulit sekali kita bisa memastikan bahwa hadits-hadits yang berkeliaran di WAG adalah hadits yang memiliki sanad muttasil tanpa bekal ilmu hadits. Meski belajar agama yang sesungguhnya tak sesimpel klik like akun instagram islam-islaman atau baca-baca kultwit ustad. Tetapi belajar agama dengan model yang “menyusahkan” itulah yang biasanya menciptakan kearifan.

Contoh saja, ketika dulu saya ngaji Kitab Fathul Qarib, saya baru tahu bahwa ternyata cara beribadah itu tidak mutlak harus selalu sama satu dengan lainnya. Ulama Syafi’iyah berpendapat, bersentuhan antara laki-laki dan perempuan itu membatalkan wudhu, tetapi Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa tidak batal wudhu seseorang ketika bersentuhan dengan lawan jenis. Perbedaan yang ada di dalam kitab-kitab akan menyadarkan kita betapa yang berpendapat soal wudhu saja, bukan hanya satu ulama fiqih. Sehingga ketika kita mengetahui itu, jiwa kita akan sungkan untuk menegur jika melihat orang lain yang teknis ibadahnya tak sama dengan kita, alias tidak kagetan ketika melihat yang beda.

Selain itu, belajar agama yang saya tau adalah belajar dibawah bimbingan orang yang siap secara batiniyah bertanggung jawab manakala apa yang ia sampaikan itu benar atau keliru sekalipun. Orang yang bukan hanya secara batin, melainkan secara fisik bertanggung jawab terhadap muridnya. Akibatnya, ketika seorang murid hendak meninggikan suaranya lebih dari volume suara gurunya, murid itu harus berpikir dua kali, kenapa? karena adab menempel dalam dirinya. Orang yang biasa kita anggap Guru, Kyai, Ustadz atau Ulama itulah tempat segala pertanyaan kita.

Beda halnya ketika modal kita cuma kuota, lalu bertanya di kolom komentar dengan pertanyaan sulit yang bahkan adminnya tak bisa menjelaskan apa yang ia posting. Terkadang saking peliknya, yasudah tak perlu repot-repot dipertanyakan, percayai saja postingannya toh akunnya ceklis biru. Padahal dalam riwayat keilmuan para ulama terdahulu, iklim saling mengkritisi kitab itu nyata terjadi. Inilah salah satu kesulitan belajar agama, bahwa sebelum kita bisa memastikan dalil yang sampai adalah shahih, maka tahan dulu hasrat mengafir-ngafirkan.

Atau sebelum bisa kita pastikan makna dari ayat Al-Quran itu adalah makna yang sudah dijelaskan oleh para ahli Tafsir dimana dalam menafsirkan Al-Quran para Mufassir selalu sangat berhati-hati, bahkan sampai rela berjalan jauh dari satu wilayah ke wilayah lain hanya untuk mencari keabsahan satu riwayat saja. Maka tahanlah menggunakan ayat dengan nafsu beragama yang tak terkendali itu.

Yang lebih susah dalam mempelajari agama adalah cara bagaimana mengendalikan nafsu ingin dibilang “wow” ingin dipandang shaleh, dan ingin dipanggil “tadz!!”. Bayangkan saja, ketika kita sudah belajar agama di pesantren, asrama atau balai keagamaan yang lamanya minimal tak akan kurang dari empat tahun, dengan kondisi belajar yang susahnya minta ampun, harus hafal ini hafal itu, harus baca ini baca itu, artikan kitab-kitab perkatanya sambil terkantuk-kantuk, tapi akhirnya kita dipesankan oleh guru untuk tidak boleh menempelkan gelar keagamaan kita sebagaimana gelar lulusan universitas. Coba pikir, apa enaknya belajar agama? sombong sedikit saja tak boleh.

Memang sudah seharusnya belajar agama bukanlah semata belajar fiqih saja, bukan juga hanya pandai mengutip dan menghukumi, tetapi dari dulu sampai sekarang, belajar agama adalah belajar menimbang hati kita, berusaha menerima apa yang beda, mencerminkan adab, tingkah laku dan cara bicara yang baik, dimana untuk bisa itu susah sekali dan ketika bisa, buah dari kemampuan itu adalah perilaku beragama yang rahmatan lil ‘alamiin. Begitulah kiranya khutbah pertama, Barakallahu lii walakum.

Nilai kualitas konten