Home Viral MASIHKAH OSPEK MEMARAH-MARAHI MABA RELEVAN?

MASIHKAH OSPEK MEMARAH-MARAHI MABA RELEVAN?

Berbagi yuk ...
  • 2
    Shares
5/5 (2)

Fakultas Ilmu Pendidikan Unesa mungkin memang lagi apes saja. Kegiatan ospeknya yang disiarkan secara live itu mendapat reaksi kurang baik, bukan karena kualitas audio dan video yang buruk, melainkan karena konten dan bentak-bentak mabanya yang agak gimana gitu.

Apes sungguh apes, padahal dari dulu kegiatan bentak-bentak maba itu sudah jadi agenda tahunan, cuma saja, ketika kegiatan ospek atau kaderisasi dilaksanakan pada masa pandemi secara virtual, yasudah jejaknya pun bisa ditemukan semua orang. Berbagai kritik dan tentunya meme pun bertebaran, dari yang halus sampai sarkastik. Sudahlah kakak-kakak mahasiswa Unesa yang budiman, terima saja.

Lagi pula, sudah tau tipikal ospek yang militeristik seperti itu menjadi perdebatan sejak lama, masih saja dipaksakan untuk dipakai pada kegiatan ospek, yang mana kegiatannya dilakukan secara virtual. Mahasiswa baru hanya menatap satu benda bentuknya kotak, dimana benda itu tidak akan bisa mengeluarkan aura kakak-kakak mahasiswa yang galak. Katakan saja bahwa bentak-bentak online itu sungguh lucu.

Begini, atas dasar permasalahan Unesa inilah saya timbul sebuah pertanyaan tentang apakah bentak-bentak dengan niat mendisiplinkan itu sungguh efektif atau paling tidak dianggap penting? Pertanyaan ini juga tepat saya tujukan bagi teman-teman yang sekarang sedang berada di posisi sebagai kakak-kakak mahasiswa, mengingat saya tidak ada wewenang secara formal untuk mengintervensi kebijakan organisasi mahasiswa, jadi mungkin dengan artikel inilah mudah-mudahan kita bisa berdiskusi.

Nah, kita mulai dengan fakta bahwa hampir di seluruh tingkat pendidikan di Indonesia, ospek sudah menjadi agenda yang dinilai penting. Sejak SMP, SMA bahkan ada kabar penerima beasiswa LPDP yang akan melanjut studi S2 pun harus setidaknya diperlakukan hampir mirip seperti ospek ini, meskipun kadarnya tidak sampai dibentak-bentak.

Anak-anak baru yang terjaring masuk ke suatu sekolah dianggap belum mampu memahami realita bahwa ketika masuk sekolah atau kampus harus memiliki kedisiplinan tinggi, makanya kemudian dalih dari ospek ini adalah mendisiplinkan. Jujur saja, saya rasa mungkin karena disiplin hanya sebagai dalih, jadinya kegiatan ospek ini lebih dominan diartikan sebagai ajang pembalasan dendam.

Ketika saya pertama kali masuk kampus, kegiatan ospek dan bentak-bentak juga pernah saya alami, tapi kedisiplinan yang tumbuh tidak berangkat dari rasa tanggung jawab, melainkan dari rasa takut kepada kakak senior. Bayangkan, betapa senior adalah sosok orang tua kedua setelah guru atau dosen, ia dianggap perlu menasihati dan membimbing (kadang-kadang mendekati) adik-adik barunya. Sampai sekarang, citra itu terus tumbuh seiring saya bertambah usia bahwa senior adalah tokoh antagonis.

Ketika tiba saatnya saya gantian menjadi senior, citra itu melekat atas pengalaman dahulu. Sehingga jadilah saya antagonis kepada adik-adik mahasiswa baru meskipun karakter dan kepribadian saya introvert, jangankan untuk bentak-bentak, untuk sekedar tahu urusan orang lain saja males, apalagi harus memarahi orang lain. Tetapi karena tuntutan agenda organisasi dan citra senior yang terbentuk itulah, dengan terpaksa saya tinggalkan baju introvert itu.

Kita ini sering lupa bahwa sebetulnya mahasiswa-mahasiswa baru itu datang ke kampus dengan niat merubah iklim belajar, dari yang hanya sekedar discovery learning menjadi pembelajaran berbasis riset ilmiah. Hubungan-hubungan antara dibentak-bentak dengan kegiatan perkuliahan juga sering tidak ditemukan juntrungannya, barangkali jika dihubungkan dengan sifat organisasi, mungkin saja nyambung, bahwa anggota organisasi harus disiplin, taat dan patuh bla bla bla, tetapi mungkin ini pula yang membuat kebijakan-kebijakan organisasi mahasiswa jadi semakin tidak punya dasar yang jelas.

Organisasi-organisasi di dalam kampus biasanya berfungsi sebagai wadah baru bagi mahasiswa, kita anggap saja ketika SMA organisasi yang dikenal adalah OSIS, sialnya organisasi siswa itu lebih sering jadi tangan kanan sekolah alih-alih berkegiatan secara merdeka. Oleh karenanya organisasi kampus harusnya menyajikan perbedaan itu, membimbing mahasiswa baru untuk berorganisasi secara merdeka. Tapi juga sedikit kekurangannya, cara-cara kaderisasi yang digunakan masih dengan pendekatan ospek-ospek LDKO di sekolah.

Sebetulnya bagi saya pribadi, tidak ada masalah dengan ospek, kaderisasi atau apa pun judulnya, selama arah dan pendekatannya digunakan dengan cara-cara yang humanis, katakanlah tidak bentak-bentak. Kan malu juga, seperti kasus di Unesa, hanya untuk melihat ikat pinggang, kakak mahasiswa harus naik pitam, rasanya seperti tidak elit. Lagi pula nanti anak-anak yang punya keperibadian berbeda semakin enggan untuk berorganisasi, jika perpeloncoan dan cara-cara militer digunakan pada orang yang sering disebut mental tempe.

Saya jadi ingat, pada tahun 1970an militer memang benar-benar ditugaskan masuk kampus, untuk mengontrol kegiatan berorganisasi mahasiswa dengan kebijakan NKK-BKK, setelah kebijakan tersebut dihapus pada 1978, bekas-bekas dari kebijakan itu dengan istilah pendisiplinan masih ada dan terus diwariskan, dan yang mewariskannya bukanlah militer atau aparat, melainkan mahasiswa itu sendiri.

Lagi-lagi garis waktu mengenai sejarah ini penting sekali, bahwa kemudian mahasiswa ini jadi tahu apa dan bagaimana fungsi mereka, serta keberadaannya biar memberi dampak apa. Barangkali konsep-konsep yang lebih matang mengenai tata-cara berorganisasi akan bisa didiskusikan kembali, agar nanti apa yang dilakukan kakak mahasiswa ini tidak lagi dianggap sepele, maka unsur-unsur humanisasi juga perlu diselipkan ke dalam agenda-agenda ospek.

Diskursus mengenai ospek ini akan terus berkembang, inovasi dan perubahannya akan mengikuti zaman. Tetapi ya satu-satunya yang harus dipertahankan adalah pendekatan yang baik, apakah artinya tidak boleh lagi bentak-bentak? Ya apa tujuannya bentak-bentak kalau toh dengan cara yang baik pun lebih efektif. Nah disini kita bisa menelaah, bahwa menggunakan pendekatan marah-marah itu bukan jalan satu-satunya kok, masih banyak cara lain yang tidak klise namun tetap bijak.

Biar bagaimana pun, gerakan-gerakan kemahasiswaan sampai hari ini masih sangat penting, seharusnya pendidikan berorganisasi dilakukan dengan pendekatan yang solid, agar tidak ada jarak bagi mahasiswa satu dengan lainnya, agar kemudian jika satu orang tertangkap maka seribu orang lainnya datang untuk menjemput.

Nilai kualitas konten