Bangga Maka Jaya

bangga-breakpos.com

Tidak bangga terhadap agamanya sendiri, mungkin adalah kalimat yang mewakili keadaan umat Islam saat ini, terlebih para pemuda muslimnya. Kemewahan dan kejayaan ekonomi barat sudah menyilaukan pandangan sebagian besar umat. Hal ini begitu berbanding terbalik dengan apa yang terjadi belasan abad lalu, tepatnya ketika pemuda bernama Muḥammad saw. Mengguncang kekuasaan Makkaħ, yang superior saat itu, pemuda yatim piatu itu berhasil meruntuhkan kekuasaan dan mengakhiri praktik-praktik Jahiliah yang begitu marak saat itu dan membimbing manusia dari zaman kegelepan menuju zaman yang terang benderang akan Ilmu Pengetahuan.

Apa yang terjadi dengan umat Islam saat ini? Kita saat ini lebih gemar membanggakan kekayaan duniawi kita yang berkiblat kepada barat dibandingkan berlomba dalam kebaikan. Kejayaan barat dalam bidang ekonomi, pembangunan dan politik sudah menyilaukan kita dan membuat kita buta akan fakta yang sebenarnya terjadi. Bangsa eropa  yang begitu digdaya dalam bidang ekonomi telah kehilangan pijakannya dalam moralitas. Ketidakpercayaan masyarakat eropa terhadap agama sangat besar dan berdampak sangat kuat serta fundamen pada setiap perikehidupan mereka. Hal ini-lah yang membuat mereka sangat rapuh meskipun mereka berada di puncak kejayaan dalam beberapa dekade terakhir.

Rapuhnya bangsa eropa adalah karena runtuhnya moralitas masyarakatnya. Keruntuhan ini dimulai ketika masyarakat eropa tidak percaya terhadap pihak gereja yang saat itu terkesan hanya menjadi entitas politik yang tidak lebih dari sekedar penarik pajak rutin dan pengekang pengetahuan. Diperjelas hal ini oleh terbunuhnya Galileo karena penemuannya bertentangan dengan dogma yang diajarkan oleh pihak gereja, ia berpendapat bahwa mataharilah pusat dari semesta ini sedangkan di pihak lain, gereja yang menjadi ‘suara Tuhan’ di muka bumi mendogma bahwa bumilah pusatnya. Galileo harus menerima dirinya dipenggal padahal dikemudian hari semua peneliti dan teknologi yang mendukung, setuju atas pendapat Galileo.

Pihak gereja baru saja meletakkan batu pertama kehancuran moral bangsa eropa, masyarakat yang sudah muak dengan pajak yang tinggi dan dogma yang  sering membuat mereka justru tidak berkembang dalam bidang ilmu pengetahuan mulai meninggalkan agama atau setidaknya memisahkannya dari kehidupan keseharian dan meletakkannya sebagai kebutuhan sesekali. Dari sini pula muncul sekularisme barat.

Masyarakat yang melepaskan diri dari kendali gereja, mulai mencari-cari ideologi yang bisa menampung aspirasi mereka. Pada saat yang sedemikian rumit bagi kehidupan masyarakat eropa tersebut, muncul-lah Darwin dengan gagasannya bahwa manusia tak lain adalah hewan jua, ia bahkan  meletakkan manusia pada klasifikasi animalia. Hal yang membuat masyarakat makin kehilangan kontrol sosial dan moral. Teori yang seolah memberi keabsahan bagi manusia untuk berbuat asusila dengan mengesampingkan kepercayaan bahwa manusia adalah mahkluk wakil Tuhan dimuka bumi dan menggantinya dengan kepercayaan bahwa manusia tidak lain adalah hewan.

Sudah cukup hancur moral bangsa eropa, diperparah dengan munculnya bapak psikologi, Sigmund Freud yang mencetuskan bahwa energi yang mendorong manusia beraktifitas adalah dorongan seksual, ia bahkan menyebutkan bahwa seorang anak bayi yang menetek pada ibunya adalah karena adanya dorongan hasrat seksual si bayi kepada ibunya. Teori yag semakin memberi legitimasi kepada masyarakat eropa untuk mengumbar sensasi erotis dan seksual. Media massa, cetak, film bahkan radio sekalipun, semua mengumbar perihal seks dan menjadikannya komoditi utama.

Tapi mengapa segenap kaum muslimin masih saja silau dan mendadak buta melihat semua kebobrokan yang ada pada masyarakat eropa masih saja kita berkiblat pada barat dan justru malu untuk menjalankan ajaran Islam pada setiap segi kehidupan. Padahal Islam bukanlah ajaran yang membuat kita menjadi terbelakang, kita lihat saja kejayaan Islam di masa lampau yang pernah menjadi pusat peradaban ketika masa kejayaan Khalifaћ Harun Al-Rasyid, ilmu pengetahuan berkiblat pada pemikir-pemikir yang berpusat di Baghdad. Mulai dari tekhnik, matematika, perbintangan, hingga filsafat sekalipun, para pemikir Islam menjadi pucuk referensi dari setiap disiplin ilmu.

Belum juga kejayaan dimasa khulafa Al-Rasyidin yang sudah melebarkan daerah hingga lebih besar dari kerajaan Persia. Belum lagi jika kita ingat hebatnya Khalifah ‘Umar bin ‘Abd Al-Aziz yang berhasil memberantas korupsi hingga berhasil menyejahterakan masyarakat hingga tidak ada lagi yang menerima zakat melainkan semua orang sanggup membayar zakat.

Kegemilangan masa lampau Islam yang begitu hebat, dilupakan begitu saja oleh masyarakat Muslim hari ini, mereka lebih memilih mengidolakan kejayaan eropa yang padahal sangat rapuh dari dalam, mereka jaya dan berhasil menjangkau bulan tapi kaki mereka tidak menginjak pada pondasi yang kuat. Andai saja masyarakat Islam mau kembali kepada ajaran Islam dan meninggalkan kebiasaan barat yang datang seiring arus globalisasi, bisa dipastikan Islam kembali jaya dan bisa menggapai bulan di galaksi lain namun dengan kaki yang tetap menapak pada pondasi yang kokoh.

Tugas anak muda-lah, yang punya kekuatan untuk memulai perubahan besar menuju kegemilangan kembali Islam. Peran mahasiswa sebagai pelopor dan penyalur perubahan di masyarakat harus dimaksimalkan, Idealisme golongan tua harus ditopang oleh semangat kuat anak muda menyokong setiap apa yang pemikir-pemikir Islam cetuskan, menyandingkannya dan menjadikannya daya saing bagi umat Islam agar kembli berjaya dan juga menjadi daya saing bagi setiap apa yang hendak masuk kedalam kehidupan masyarakat Islam.

Hasan al-banna tidak butuh usia yang terlalu tua utuk memimpin gerakan Ikhwan Al-Muslimin, ‘Ali bin Abi Ṭalib adalah anak muda ketika ia mengomandani pasukan perang dan menjadi salah satu petarung yang sangat disegani, begitu pula dengan Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar dan masih banyak lagi penggerak umat Islam yang merupakan anak muda yang enerjik dan berpikiran visioner, membawa masyarakat muslim kearah yang lebih baik. Dengan begitu pula tidak mustahil jika kita, mahasiswa Muslim di negeri ini menjadi pelopor dan penyalur kejayaan Islam, membimbing masyarakat untuk sedikit demi sedikit meninggalkan pola kehidupan yang didiktekan selama ini oleh barat, masuk menuju kehidupan  Islam yang berlandasan Al-Quran dan Sunnah. Hingga akhirnya Islam kembali jaya dari segala aspek kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.