Cinta Rasul dan Haddad Alwi: Katalis Pemugar Ingatan

58
5/5 (2)

Lirik berbahasa Arab dengan suara bapak-bapak, ditingkahi suara anak kecil perempuan dengan iringan gambus dan rebana. Seluruhnya merambat melalui sebuah speaker dari Tape compo usang dikontrakan. Menggeret paksa beberapa peristiwa yang lekat dalam muara ingatan, lengkap dengan setiap perasaannya ke pelataran. Waktu-waktu terjauh, secara samar dihadirkan ulang melalui rambatan nada dan suara milik Haddad Alwi.

Haddad Alwi, pada tahun 1999 menggagas sebuah album religius bertajuk “Cinta Rasul Vol. I“ dengan menggaet seorang penyanyi cilik bernama sulis sebagai tandem. Entah benar atau tidak, tapi salah satu sumber menyebutkan bahwa album itu terbentuk, dari kegelisahannya akan naiknya pamor di obok-obok milik Joshua Suherman, yang albumnya terjual sebanyak 1 Juta Copy.

Cinta Rasul Vol. I dicetak dalam medium kaset pita dan dirilis oleh label Blackboard (Musika Selaras Citra). Album itu terjual sebanyak 1 Juta copy dalam kurun waktu 3 bulan, dan sempat dicetak ulang oleh Warner Music Indonesia pada tahun 2006.

Dengan sampul album di dominasi warna biru, ditambah objek berupa bulan dan bintang bergaya pop-art dan Kaligrafi bertuliskan “Muhammad”. Cukup iconic dan memorable saya kira, sebab Cinta Rasul dari Volume 1 sampai dengan 6 (kalau tidak salah) menggunakan cover yang sama. Hanya warna latarnya saja yang berubah.

Sebagian dari kita yang lahir pada awal 90an mungkin cukup familiar dengan nomor “Ya Thoyyibah”. Terlepas dari mengerti atau tidaknya tentang lirik tersebut, bahkan bagi saya, bait itu terasa masih awet di ingatan sampai sekarang.

Semua lagu di album ini menggunakan lirik berbahasa arab, mungkin juga termasuk salah satu pionir dalam genre musik religius di Indonesia yang menyasar segmen anak-anak. Nomor pembuka album ini bertajuk “Ya Nabi Salam ‘Alaika”, mungkin semacam ungkapan Do’a, Penghormatan, dan bukti kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.

Nomor “Ya Thoyyibah” disajikan menjadi dua versi, pada urutan ke-2 Haddad Alwi berbagi “microphone” dengan Sulis. Namun pada Urutan ke-9 dengan aransemen yang nyaris sama, Sulis menyanyikan “Ya Thoyyibah” sendirian. Seolah enggan berbagi dengan Haddad Alwi.

Musik Religius telah menjadi kategori tersendiri dalam lanskap perkembangan musik Kontemporer di Indonesia. (untuk sementara, term “religius” disini bisa kita sepakati dan batasi secara sederhana, berkaitan dengan Tuhan dan Agama).

Definisi sederhananya mungkin adalah sebuah Musik yang mengusung tema yang berkaitan dengan Keyakinan ataupun Ketuhanan. Haddad Alwi, hanya sebagai salah satunya. Namun tentu bukan yang pertama, ada Trio bersaudara Bimbo yang terbentuk 1967 di Bandung, meskipun tidak semua albumnya ber-tema-kan religius,  namun beberapa lagunya seperti, “Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya..”, “Rindu Rasul”, atau “Tuhan”, merupakan nomor-nomor yang, secara disadari atau tidak, lekat dalam ingatan beberapa dari kita.

Lagu-lagu tersebut cukup Hits dan “Seasonal”, selain itu, musisi/grup yang juga mengusung tema dan lirik tentang “Ketuhanan” ada Rhoma Irama, Nasida Ria dan banyak Orkes atau Grup Kasidah lain, apalagi di sekitaran Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jika Kamu mencari sesuatu yang Religius tapi agak brutal, mungkin Kamu bisa mencoba mendengarkan “Kelompok Kampungan“, unit folk progressive bentukan Bram Makahekum Pada Medio 1970-an di Yogyakarta, dengan nomornya yang bertajuk “Mencari Tuhan”.   

Tapi yang mengusung tema Religius untuk segmentasi anak-anak, bolehlah kiranya saya mendapuk Haddad Alwi sebagai yang pertama. Dan memang diterima, dengan bukti albumnya Vol. I bisa raib sebanyak 1 Juta Copy dalam waktu 3 bulan.

Indonesia sebagai Negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama islam, mungkin menjadi satu keberuntungan bagi para pelaku musik bertema Religi. Mereka bisa banyak berinovasi dan bereksplorasi dari segi musik maupun lirik tanpa harus merasa takut kekurangan pendengar.

Cinta Rasul, terutama Volume I  menjadi salah satu pengalaman pertama saya dalam hal konsumsi musik, selain tentu saja Tetty Kadi, Koes Plus, Panbers dan D’lloyd, yang sampai detik ini acapkali berhasil menjadi katalis yang memugar ingatan-ingatan tentang peristiwa yang jauh, yang lampau,  meski samar.

Jika kamu merasa informasi ini bermanfaat silakan bagikan ke jejaringmu. Sempatkan juga untuk berdonasi jika punya rezeki lebih agar kami bisa terus memberikan informasi menarik lainnya. 

Nilai kualitas konten