Hardiknas di Hari Raya: Upaya Mengembalikan Fitrah Pendidikan

39
5/5 (1)

Tahun ini, ada dua tanggal peringatan sebuah peristiwa yang sepertinya akan agak tenggelam karena bertepatan dengan hari raya Idul Fitri 1443 Hijriyah. Kedua peristiwa itu adalah peringatan hari buruh di 1 Mei, yang kemungkinan bertepatan dengan malam takbiran, serta hari pendidikan nasional (Hardiknas) 2 Mei, yang jika Muhammadiyah dan NU sepakat, akan menjadi hari lebaran. 

Saya cukup ragu bahwa massa buruh akan melakukan aksi di malam takbiran, walau pun hal tersebut bukannya tidak mungkin. Sementara para guru tidak mungkin memakai batik Korpri di hardiknas yang bertepatan dengan hari lebaran, bukan? 

Saya tidak akan bercerita banyak tentang peringatan hari buruh, selain wawasan saya sempit terhadap hal tersebut, saya juga merasa saya tidak cukup kompeten untuk melakukannya. Sementara, dalam tulisan ini, tentu saja saya ingin bercerita beberapa hal sehubungan dengan hardiknas yang mungkin gaungnya akan agak tenggelam di tahun ini.

Momentum hardiknas yang bertepatan dengan hari raya ini ingin saya maknai sebagai mengembalikan pendidikan kepada fitrahnya. Tentu saja pengertian tentang fitrah pendidikan ini bisa dimaknai secara jamak. Namun, satu hal yang jelas, fitrah dari pendidikan adalah proses menumbuh kembangkan seorang manusia. Saya rasa, sampai tahapan tersebut tidak akan ada perdebatan. 

Hardiknas
sumber: deviantart.com

Peringatan hardiknas sebagai kembali kepada fitrah pendidikan juga berarti berupaya untuk mengembalikan ajaran pendidikan siapa yang ingin kita rujuk. Pak Toto Rahardjo, pendiri Sanggar Anak Alam Yogyakarta beranekdot bahwa bapak pendidikan kita bukanlah Ki Hajar, tetapi Dandels. Hal ini berkaitan dengan arah pendidikan kita yang berusaha menjadikan manusia sebagai makhluk yang ikut-ikutan, followers, dan ingin menjadi pelayan orang lain. 

Ajaran Ki Hajar Dewantara dengan Taman Siswanya justru adalah lawan yang dihadirkan untuk menghentikan ajaran kolonial yang bersumber pada perintah, hukuman, dan ketertiban. Sayangnya, sekolah pada saat ini juga lebih senang menerapkan sistem yang seperti penjara tersebut. Pada momen hardiknas ini saya ingin mengingatkan siapa saja yang menyadari hal tersebut. 

Mengembalikan Fitrah Manusia

Ternyata banyak hal yang perlu dikembalikan ke fitrah dalam dunia pendidikan ini. Selain tujuan pendidikan, sekolah, dan manusia sebagai subyek pendidikan juga perlu kembali ke fitrah. Sekolah sesuai asala bahasanya scholae memiliki makna “waktu senggang”, yang dalam pengertiannya adalah tempat untuk mengisi waktu senggang. Sekarang sekolah justru dimaknai sebagai sebuah kewajiban manusia untuk bisa hidup sebelum bekerja.

Akibatnya, pendidikan menjurus pada pelayanan dunia industri di mana manusia disiapkan untuk menghidupi industri yang ada. Sebuah mindset yang sama dengan abad ke-17 di mana revolusi industri pertama digulirkan. Sekali lagi, di momen hardiknas ini saya ingin mengingatkan tentang kenyataan ini. 

Pendidikan dalam artian penumbuh kembangan manusia berarti mendidik manusia sesuai fitrahnya. Ini yang juga berat, karena setiap anak memiliki fitrah yang berbeda-beda. Kemampuan membaca pesan Tuhan pada diri anak ini yang dibutuhkan seorang guru ketika mendidik. Proses menyiapkan satu kurikulum untuk satu anak  ini tidak tersedia di mana pun, karena sekolah dibentuk dengan sistem untuk menyamaratakan. 

Upaya Ki Hajar dengan Taman Siswanya adalah pengejawantahan untuk mengembalikan fitrah manusia. Alih-alih memasukan pengetahuan, pendidikan bermakna, mengeluarkan kemampuan. Menurut saya, inilah semangat hardiknas yang perlu diwujudkan oleh seluruh pelaku pendidikan Indonesia dari level grass-root sampai ke level pemerintahan.

Terakhir, semangat hardiknas yang perlu dipelihara adalah mengembalikan fitrah guru sebagai manusia yang terhormat. Hal ini perlu dipahami oleh guru sendiri, serta siapa saja yang menetukan nasib guru. Sebagai orang yang diamanahi pertumbuhan manusia lain, tentunya teladan adalah kunci, namun teladan jelas memiliki harga yang tinggi.

Semangat hardiknas ini juga harapannya bisa mengembalikan fitrah guru sebagai sebuah simbol yang sangat layak dihargai. Upaya menyejahterakan guru masih terus dilakukan, namun guru juga perlu menemukan cara untuk saling memakmurkan. Guru yang kolektif dan solid sebagai sebuah komunitas akan memberikan kemudahan bagi guru sendiri. Seperti berbagi ilmu, metode, media belajar dan sejenisnya. 

Selamat hari pendidikan nasional. Semoga kerja pendidikan bisa berangsung menjadi lebih baik meski kita tahu kerja ini adalah kerja yang tidak akan usai. 

Jika kamu merasa informasi ini bermanfaat silakan bagikan ke jejaringmu. Sempatkan juga untuk berdonasi jika punya rezeki lebih agar kami bisa terus memberikan informasi menarik lainnya. 

Nilai kualitas konten