Home Sastra Mengapa Orang Indonesia Senang Berfoto dengan Bule yang Bukan Siapa-Siapa

Mengapa Orang Indonesia Senang Berfoto dengan Bule yang Bukan Siapa-Siapa

Berbagi yuk ...

KALEM.ID – Lebih baik pakai sepatu Adidas KW daripada pakai sepatu Specs yang original, lebih senang upload instastory makan di Sushitei daripada makan di Warteg, lebih senang berbahasa Inggris daripada berbahasa Indonesia padahal sedang ngobrol dengan sesama orang Indonesia.

Jika kita pergi ke tempat wisata, atau tempat-tempat terkenal yang ada di Indonesia, kita akan mudah sekali menjumpai beberapa bule yang sedang melancong. Beberapa di antaranya adalah bule kere, yang hanya punya low budget untuk traveling, beberapa sisanya adalah mereka yang punya banyak uang dan hobi keliling dunia. Namun, ada persamaan di antara keduanya, yaitu orang-orang Indonesia yang mengantre untuk selfie bareng mereka.

Tentu saja tidak ada yang salah mengajak selfie orang asing, toh selevel Tatjana Saphira saja ingin selfie dengan Park Seo Joon. Tetapi apa sebetulnya tidak aneh jika kita senang berfoto dengan orang asing, bukan atas dasar keramahan, melainkan kita merasa lebih mewah dan unggul jika bisa berfoto dengan bule. Masih mending jika bule tersebut adalah orang terkenal, katakanlah misalnya Donald Trump atau Tom Cruise. Lah, ini yang difoto adalah seorang pelancong antah berantah, yang di negaranya mungkin rakyat misqin seperti kita juga.

Membaca fenomena ini, saya merasa harus mengajukan pertanyaan, apakah sebetulnya orang Indonesia memiliki inferiority complex terhadap orang asing? Terutama orang-orang kaukasoid (kulit pucat, rambut pirang, mata biru). Bagi sobat-sobat kalem yang belum tahu apa itu inferiority complex, itu adalah perasaan rendah diri, atau merasa diri kita di bawah dari orang lain, kumeok memeh dipacok. Konon budaya rendah diri ini diwariskan sejak zaman kolonialisme.

Orang Indonesia yang konon pribumi ini adalah bulan-bulanan para londo dan indo yang dahulu menguasai negeri ini. Mereka dicekoki dengan pengetahuan bahwa orang Indonesia adalah manusia primitif dan segala ajarannya sudah tidak laku dalam kehidupan modern. Segala hal yang tidak bisa masuk dalam rasio dan pengalaman empirik dianggap klenik dan ketinggalan zaman. Selain itu, permainan pikiran kita juga dimainkan dengan persepsi soal kegantengan dan kecantikan.

Kita diajari bahwa orang kulit putih memiliki derajat lebih tinggi dari orang kulit berwarna, hidung mancung lebih baik dari hidung pesek, mata biru lebih indah dari mata hitam, dan berbagai macam atribut lainnya. Tontonan yang kita dapat pun mengamini itu, akhirnya standar wajah tampan terbentuk lewat tivi. Orang yang wajahnya kebule-bulean dan putih bersih punya peluang lebih besar untuk menjadi artis layar sentuh, eh layar kaca. Karena itu produk pemutih wajah laku keras, dan bisnis operasi plastik juga laris manis.

Hal-hal di atas mendorong inferioritas orang Indonesia menjadi semakin nyata, kita jadi pesimis terhadap produk lokal, dan percaya hanya pada yang berbau asing. Misal, lebih baik pakai sepatu Adidas KW daripada pakai sepatu Specs yang original, lebih senang upload instastory makan di Sushitei daripada makan di Warteg, lebih senang berbahasa Inggris daripada berbahasa Indonesia padahal sedang ngobrol dengan sesama orang Indonesia.

Akibatnya, kita menjadi tidak punya percaya diri lagi. Kita tidak lagi menghormati apa yang para leluhur ajarkan karena dianggap kuno dan tidak berguna. Tidak percaya? Coba lihat film-film Indonesia yang belakangan tayang. Filmnya film Indonesia, judulnya bahasa Inggris, nama-nama artis pemainnya indo, wajahnya kebule-bulean, dan syutingnya di luar negeri. Ini penjajahan bahasa sobat.

Mau bukti lagi? Pernah melihat nama anak-anak yang lahir era 2010 ke sini? Perhatikan nama-namanya, tidak ada lagi nama-nama yang terdengar Indonesiawi. Semua namanya sulit-sulit dan entah dari mana, saya yakin orang tuanya searching di google dengan keyword “nama-nama anak hits.” Akhirnya muncullah nama-nama tersebut, sementara nama-nama seperti Soentoro, Asep, Dodi, Saroso, mulai hilang ditelan zaman. Tentu saja kita bisa pilih nama-nama yang lebih keren dari para orang tua kita itu, seperti misal putra Cak Nun yang diberi nama Sabrang Mowo Damar Panuluh, atau anak Sudjiwo Tejo yang dinamai Rembulan Randu Dahlia, atau misalnya sesederhana anak Seno Gumira yang diberi nama Timur Angin. Keren bukan? Dan semuanya sangat Indonesia.

Inilah akar permasalahannya, orang Indonesia minder jika sudah menyangkut urusan dengan bule. Untuk mengatasi semua itu, pertama kita perlu menyadari bahwa sejatinya orang Indonesia memiliki peradaban yang sangat maju sejak zaman dahulu kala. Mongolia menaklukkan separuh Asia tetapi tidak pernah bisa mengalahkan Majapahit. Orang-orang Sunda, sejak dahulu, sampai sekarang (di beberapa kabuyutan) memiliki sistem pangan yang sangat kuat yang tidak memungkinkan setiap orang kelaparan. Sistem tata kota kerajaan-kerajaan di Indonesia sudah sangat mapan dan canggih, sehingga memiliki kehidupan yang makmur. Semua itu berubah sampai kolonialisme menyerang, menyuap oknum-oknum kerajaan dan membuat para sengkuni merajalela, menggerogoti kebijaksanaan kebudayaan kita secara perlahan. Sampai hari ini, dan kita mungkin tidak akan pernah terbebas. Saya cukup yakin, tapi semoga saja saya salah. Semoga alasan kita berfoto dengan bule hanyalah bentuk keramahan kita sebagai tuan rumah, tidak kurang tidak lebih.

Nilai kualitas konten