Home Sastra Apakah Bencana Selalu Merupakan Azab?

Apakah Bencana Selalu Merupakan Azab?

frekuensi erupsi gunung dan gempa bumi
source: BBC
Berbagi yuk ...

Kalem.id- “Jika bencana itu teguran, saya kira, yang harusnya merasa ditegur bukan hanya mereka yang terkena langsung musibah, melainkan kita juga yang hampir setiap hari melakukan perusakan terhadap mahkuk Allah”.

Sejak kecil, layaknya di pengajian kampung, saya sudah biasa diperdengarkan kisah-kisah para Nabi yang “ending”-nya hampir selalu sama, yaitu turunnya azab Allah kepada kaum yang tidak taat. Tapi saya tidak pernah benar-benar mendengar bagaimana kronologis dan sebab turunnya azab itu.

Saya membayangkan bagaimana firaun dan balatentaranya melintasi dasar lautan yang airnya terbelah layaknya jalan tol menuju jalan bawah tanah, kemudian dindingnya menutup lagi.

Atau ketika Allah mengangkat tanah (bumi) ke langit kemudian membalikannya sehingga kaum Nabi Luth luluh lantah. Yang terlintas dalam pikiran saya adalah terbaliknya mangkuk bakso yang di dalamnya ada rumah, tanah, manusia, dan segala hal yang ada di permukaan tanah.

Tidak ada penjelasan detail. Memang tidak detail, karena Al-Quran mengisahkan sejarah Nabi-Nabi memang tidak faktual, karena tujuannya agar kita mengambil “ibrah” atau pelajaran, begitu kata Ulil Abshar Abdalla dalam sebuah forum diskusi.

Selain dari ketidak akuratan kisah, saya juga masih belum benar-benar paham penyebab Gusti Allah meng-azab kaum yang tidak beriman kepada para Nabi itu. Tidak mungkin Allah memberikan azab tanpa sebab. Jika itu terjadi, maka Gusti Allah tidak adil karena memberikan hukuman kepada orang yang tidak bersalah. Pasti ada sebab asalnya.

Dan saya -sebagaimana dulu diceritakan oleh Guru ngaji saya- memahami bahwa kaum-kaum itu di-azab karena tidak mau beriman kepada para Nabi. Nah.. Saya mendapatkan kejanggalan.

Apakah mungkin, karena tidak beriman, Allah menurunkan azab? Bukankah tidak ada paksaan dalam agama? Bukankah Gusti Allah-lah yang menakdirkan seseorang beriman atau tidak beriman? Bahkan sekelas Baginda Rasulullah Muhammad pun tidak bisa menjadikan pamannya, Abu Thalib untuk beriman-islam?

Nilai kualitas konten