Rama Bukan Milik Ani

lelaki-breakpos.com

Ani membanting piring yang ia pegang, wajahnya memerah dengan alis menukik di atas mata yang melotot. Ia yang sedari tadi memasak untuk laki-laki yang ditunggunya itu mendadak berubah bak malaikat kegelapan saat melihat yang ditunggu justru datang dengan wanita lain.

“Rama?!” bentaknya, hampir saja ia layangkan tangan kananya ke pipi laki-laki itu tapi ia urungkan, mungkin yang dulu ia sangat cintai kini bahkan haram menyentuhnya meski untuk menamparnya sekalipun.

“Apa?” jawab Rama dengan wajah bingung. Seperti tanpa dosa

Wanita yang sedari tadi duduk di bangku belakang kendaraan roda milik Rama beranjak turun. Ia mengernyitkan dahi, tangan kanannya memegang bahu kirinya dengan canggung.

“Ani?” tanya wanita itu lirih.

“Diam kamu! Sahabat macam apa yang menusuk dari belakang?”  bentak Ani pada wanita yang tidak lain adalah sahabat bermainnya sejak dulu.

Ani bergegas meninggalkan halaman belakang rumah kosong itu menuju kerumunan kawannya yang berada tidak jauh dari tempat ia memasak tadi. Memang kabar kedekatan Rama dengan wanita lain santer ia dengar akhir-akhir ini tapi kedatangannya bersama wanita yang tidak lain adalah sahabatnya sambil berboncengan sepeda layakya petir di siang bolong. Ia tak habis pikir kalau Rama berani melakukan hal itu.

“Ani?” kata kawan-kawannya yang lain saat melihat Ani menghampiri mereka dengan wajah marah.

Tapi serentak wajah marah itu digantikan dengan wajah sayu, alisnya makin menukik menutup kedua matanya  yang kini mengalirkan airmata kecewa dan membasahi pipinya. Mulutnya yang sedari tadi cemberut kini memecahkan suasana dengan teriakan tangis yang taktertahankan. Kawan-kawannya mengerubunginya. Seorang wanita memeluknya, yang lain menghampirinya mengipasinya dengan kipas plastik berwarna pink bergambar Barbie.

“Rama selingkuh” katanya dalam tangis. Intonasinya naik turun mengikuti gejolak tangis yang takberaturan.

“Udah putusin aja!” salah seorang kawannya berkata sambil memandang tajam kearah Rama yang menghampiri kerumunan, kata-katanya dikencangkan bermaksud agar Rama pun mendengarnya.

“Memang kapan kita jadian?!” Rama membentak, wajahnya kini yang terlihat seperti malaikat kegelapan.

“Rama!” bentak wanita yang sedari tadi mengipasi Ani, tak terasa kini kipas itu sudah mendarat menampar wajah rama.

“Cukup!” teriak Ani dalam tangis, memecah perselisihan antara kawan dan laki-laki yang dikasihinya.

“Rama benar, tapi lebih baik kamu pergi dari sini aku tidak senang melihat mu disini! Dan bawa wanita itu pergi !” lanjut Ani menegaskan.

“Dasar tidak tau diri!“ kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut kawannya yang merasa dulu pernah menjodohkan Ani dengan Rama.

“Cukup Ayu! Mungkin aku yang terlalu percaya diri selama ini.” Ani berujar menghentikan cacian kawannya. Wajahnya kini makin merah, rambutnya sedikit kusut dan basah terkena keringat dan air mata. Mata yang tadi mengeluarkan tangis kini kembali tajam, hanya saja kini memandangi wanita yang bersama Rama.

Rama berjalan tergesa-gesa menuju sepedanya dengan perasaan yang tak karuan. Nafasnya memburu tanganya mengepal, wajahnya menatap wanita yang sedari tadi hanya diam menunggu di dekat sepedanya.

“Ina ayo kita bermain dengan yang lain, mereka sudah gila!” tandasnya pada wanita itu.

“Tapi mereka  sahabatku Rama, dan Ani teman sebangku ku di sekolah.” Ia berujar hendak menahan Rama pergi. Wajahnya memelas kebingungan.

“Aku tak mau lagi sebangku denganmu Ina!” bentak Ani dari kejauhan sambil menengadah, kedua tangannya mengepal dan menghempas.ia mengeluarkan semua tenaganya untuk meneriakkan kata-kata itu.

Ani merasa dibodohi, seingatnya dulu, Ina pun memiliki andil dalam perjodohan Ani dengan Rama. Ia yang menulis “Rama love Ani” di tanah merah lapangan kompleknya. Kawannya yang lain bergurau untuk hal itu lantas Ani pikir Rama miliknya. Ia tak tau jika dua hari yang lalu baru saja Rama menyatakan rasa sukanya pada Ina di kantin sekolah mereka. Meski kabar kedekatan Rama dengan Ina sudah  sering ia dengar tak  sedikitpun ia percaya bahwa Rama akan menghianati cintanya. Pun ia pikir tidak mungkin Ina menikungnya.

Tapi lain bagi rama, ia tidak pernah merasa  sedikitpun menyukai Ani, meski beberapa kali ia memboncengnya pulang sekolah menggunakan sepedanya. Satunya-satunya yang menurutnya cantik adalah Ina, dan Rama pikirpun Ina menyukainya karena pernah suatu hari Ina meminta dibonceng pulang sekolah.

Kini semuanya sudah berakhir, Ani merapikan genting dan dedaunan yang tadi ia gunakan saat main masak-masakan, ia gulung daun pisang yang tadi ia banting. Beringsut mengelap ingus dari hidungnya lalu menyusutkannya ke rok merah seragam sekolahnya. Lalu berjalan pulang menuju rumahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.