Pendidikan VS Radikalisme

radikalisme-breakpos.com
Source : ideapers.com
Berbagi yuk ...

Masalah radikalisme akhir-akhir ini sangat sering kita dengar bahkan masalah ini menjadi sorotan dunia. Bisa kita lihat baik masalah terorisme, pergesekan antar kelompok bahkan dalam ruang lingkup yang kecil dalam kehidupan keseharian kita, hal tersebut merupakan buah dari pemahaman radikal.

Pemahaman Islam radikal sudah masuk Indonesia bahkan bisa disebutkan setua politik di Indonesia sendiri, yang bisa mengancam kerukunan bahkan ideologi bangsa Indonesia, yang lebih menjadi titik perhatian lagi gerakan dan pemahaman Islam radikal masuk pada ranah kaum pelajar, yang dimana penerus generasi selanjutnya, kita bisa melihat banyak gerakan dan pemahaman yang sebenarnya bertentangan dengan nilai-nilai dari Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Kaum muda yang sudah menjadi pelaku dan target perekrutan ini harusnya jadi perhatian kita, bahkan dari survey yang dilakukan oleh Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) Jakarta pada tahun 2010 sungguh mengejutkan, sebanyak 48,9% siswa di Jabodetabek menyatakan persetujuannya terhadap aksi radikal.

Anak-anak yang seharusnya mendapatkan perlindungan baik dari pemerintah maupun sekolah, dunia pendidikan berkewajiban mengarahkan atau membimbingnya supaya pola pikir, sikap, dan perilakunya tidak dipengaruhi oleh jaringan terorisme. Penjelasan UU No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, kita diingatkan bahwa anak merupakan amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa harus kita jaga karena dalam dirinya melekat harkat, martabat, dan hak-hak sebagai manusia yang harus dijunjung tinggi, dari sisi kehidupan berbangsa dan bernegara, anak adalah masa depan bangsa dan generasi penerus cita-cita bangsa, sehingga setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang, berpartisipasi serta berhak atas perlindungan dari tindak kekerasan dan diskriminasi.

Tugas penanggulangan terorisme bukan hanya dari aparat Polri, tetapi juga melibatkan sekolah, pesantren, masyarakat, dan keluarga, mereka berkewajiban menciptakan iklim edukatif di bidang keagamaan yang secara demokratis dan humanistik, supaya mereka bisa meluaskan pandangannya bahwa agama dan kebenaran tidaklah absah jika dipaksakan ditegakkan dengan darah.

Khususnya dalam hal ini lembaga pendidikan harus memberikan pemahaman tentang apa itu radikalisme, jangan sampai didahului siswa diberikan paham yang radikal. Apalagi informasi bisa didapatkan dimana-mana, aksi propaganda bisa disebarkan secara mudah. Pendidikan yang sudah berkembang tidak boleh kalah dalam memberikan pengajaran yang efektif sebagaimana edukasi yang diberikan kelompok radikal dalam mempropagandakan pahamnya.

Nilai kualitas konten